GAPURA Bangkitkan Bahasa Ibu Pada Generasi Milenial Dengan Luncurkan Website Pada14 Kampung Adat Di Kabupaten Jayapura.

  • Whatsapp
GAPURA Bangkitkan Bahasa Ibu Pada Generasi Milenial Dengan Luncurkan Website Pada14 Kampung Adat Di Kabupaten Jayapura.
GAPURA Bangkitkan Bahasa Ibu Pada Generasi Milenial Dengan Luncurkan Website Pada14 Kampung Adat Di Kabupaten Jayapura.

69NewsPapua.com, Jayapura – Kab. Jayapura-Guna melestarikan bahasa ibu atau bahasa daerah kepada generasi milenial, Gerakan Pemuda Jayapura meluncurkan website 14 kampung adat yang ada di Kabupaten Jayapura, yang diresmikan oleh Bupati Jayapura, Matius Awaitauw.

Kehadiran website ini untuk mengajarkan kepada anak-anak muda khususnya anak muda di 14 kampung agar melesatatrikan budaya berbahasa daerah setiap hari, bahkan akan menjadi muatan lokal dan diajarkan disemua sekolah yang ada di Kabupaten Jayapura.

“Yang pertama saya menyampaikan terima kasih kepada bapak bupati Kabupaten Jayapura, yang mana pada hari ini tanggal 24 Oktober 2019 dalam rangka HUT ke-6 kebangkitan masyarakat adat Kabupaten Jayapura dapat dilakukan syukuran. Dan dalam kesempatan ini Bapak Bupati juga meresmikan atau melounching website 14 kampung adat.  Kemudian beliau juga meresmikan kamus bahasa Sentani, yang mana sebagai bagian dari pada proyek perubahan yang saya lakukan untuk Diklat PIM 4 Pemerintah Kabupaten Jayapura,” kata Ketua Gerakan Pemuda Kabupaten Jayapura, Jack Puraro, di Sentani, (24/10/2019).

” Saya bersyukur kepada Tuhan yang bisa menolong untuk melakukan inovasi melalui aplikasi terhadap upaya pelestarian bahasa Sentani, karena saya melihat ada degradasi budaya yang sedang terjadi, yang secara sadar atau tidak sadar kita sedang alami bersama dan ini bukan saya saja susah tapi hampir seluruh suku di Papua,” tutur ketua GAPURA Jack.

” Saat ini suku-suku di Papua mengalami sebuah degradasi bahasa yang cukup besar dimana anak-anak muda hari ini sudah tidak lagi bisa berkomunikasi dengan baik bahasa Ibu mereka atau bahasa daerah. Saya lihat Pengalaman bahwa, ketika orangtua membicarakan sesuatu dengan menggunakan bahasa ibu, anak-anak membalas dengan bahasa Indonesia,” ucap Jack.

Jack menjelaskan, dengan adanya peluang bisa dimanfaatkan lewat teknologi untuk mengangkat kekurangan yang pada masyarakat adat khusunya di kabupaten Jayapura.

” Karena ini saya melakukan inovasi baru dengan menghadirkan aplikasi yang bernama GAPURA, yaitu, Gerakan Pemuda Jayapura. Kenapa karena gerakan untuk mengembalikan jati diri kita masyarakat adat.

Karena itu saya melihat ini ada sebuah peluang yang bisa kita manfaatkan, dimana ada teknologi Android yang bisa kita gunakan. Kelebihan teknologi android ini untuk mengangkat kekurangan yang ada pada kita masyarakat adat, secara khusus di Kabupaten Jayapura dan pada masyarakat Sentani yang mana anak-anak muda usia  40 tahun keatas masih bisa berbahasa sedikit tapi dari 40 tahun kebawah sudah sangat- sangat jarang, bahkan tidak bisa mengucapkan bahasa Sentani dengan baik. Bahkan mengerti atau bahkan tidak mengerti,” jelas Puraro.

” Kita harus kembalikan dengan mengangkat bahasa kita kembali anak-anak muda itu harus belajar bahasa. Kedepan aplikasi ini nanti akan kita menginput bukan bahasa Sentani saja, tetapi ada 9 suku atau 9 DAS yang memiliki bahasanya masing-masing,” ucap Puraro.

Kata Puraro, kedepan dirinya bersama GAPURA akan menginput semua bahasa di kabupaten Jayapura untuk dimasukkan dalam aplikasi dan akan membuka sekolah bahasa daerah disetiap suku, juga akan dimasukkan dalam muatan lokal.

” Sekarang kita akan input seluruh bahasa di Kabupaten Jayapura masuk ke dalam aplikasi, sehingga ke depan ada pemikiran dari saya bahwa kita akan membuka sekolah sekolah bahasa di setiap suku-suku di setiap suku misalnya tambah di Sentani kita kan bukan sekolah bahasanya khusus untuk belajar bahasa yang kemudian di DAS-DAS. Mereka harus belajar kembali belajar bahasa nanti kita kan terus gelorakan semangat sampai kepada sekolah-sekolah menjadi muatan loka. Sebagai rasa syukur kepada Tuhan hari ini aplikasi kamus bahasa daerah kita mulai dengan dari bahasa Sentani,” kata Puraro dengan nada syukur. (clw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *